Prof. Dr. H. Erry Gumilar Dachlan, dr., Sp. OG(K)
Karakteristik Preeklamsia-eklamsia Indonesia serta Penyebab Utama kematian Ibu Bersalin
Ibu hamil kini tampaknya harus lebih berhati-hati akan munculnya preeklamsia. Preeklamsia adalah hipertensi dan proteinuria yang didaptkan setelah umur kehamilan mencapai 20 minggu. Penyakit ini masih menjadi ‘pembunuh’ nomor satu bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

 Prof.Dr.H.Erry Gumilar Dachlan,dr.SpOG(K), guru besar Unair ke 358 yang dikukuhkan pada Sabtu,13 Desember 2008, mengatakan bahwa hipertensi pada preeklamsia ditimbulkan oleh desakan darah sistolik lebih besar 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg. Ciri ibu hamil yang menderita preeklamsia adalah mengalami gejala kejang-kejang dan kaki bengkak. Tekanan darah yang cukup tinggi bisa menyebabkan pembuluh darah ibu hamil pecah.

Berdasarkan data di RSU Dr.Soetomo, kejadian preeklamsia tercatat 30 hingga 50 kasus per tahunnya. Dengan prevalensi 1,08%, angka kejadian preeklamsia ini lima kali lebih tinggi daripada angka kejadian di Bangkok dan 10 kali lebih besar dari Singapura.

Munculnya preeklamsia ini, menurut Prof.Erry, disebabkan oleh multifaktor. Beberapa faktor pencetusnya diantaranya adalah aspek imunologi, keturunan atau genetik, faktor makanan dan infeksi. “Preeklamsia ini di dunia kedokteran disebut disease of theory. Faktor penyebabnya sangat kompleks,”ujar Prof.Erry.

Di Indonesia preeklamsia mendominasi penyebab tingginya angka kematian ibu dan janin selain dua penyebab lainnya, yaitu pendarahan pasca melahirkan dan infeksi. “Saat ini juga ada pendatang baru yang menjadi penyebab kematian pada ibu dan janin yaitu penyakit jantung. Penyakit jantung ini ada dua macam. Ada yang diderita ibu hamil sebelum hamil ada yang muncul karena tidak terdeteksi sebelumnya yang disebut dengan istilah penyakit jantung rematik,”paparnya.

Ada beberapa faktor resiko tinggi ibu hamil yang rawan terserang preeklamsia. Salah satunya adalah ibu yang hamil di bawah usia 20 tahun dan diatas 35 tahun. Selain itu untuk ibu yang semenjak belum hamil sudah memiliki penyakit hipertensi maupun diabetes, resiko untuk terserang preeklamsia saat hamil juga sangat tinggi. Jika preeklamsia ini sudah akut, biasanya hanya tertolong salah satunya. “Bisa ibu atau anaknya. Namun kami para dokter akan berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya,”imbuh Prof.Erry.

Mencegah timbulnya preeklamsia memang tidak mudah. Namun menekan munculnya preeklamsia bisa dilakukan dengan mengenali faktor resiko, mengenali penyakit yang sudah diderita ibu hamil sebelumnya, dan mewaspadai kehamilan dengan cairan ketuban yang banyak. Pada prinsipnya pada kunjungan antinatal yang dilakukan harus rutin dilakukan pengecekan. Para dokter atau paramedis diharapkan juga terus memantau kemungkinan munculnya resiko preeklamsia. “Pemeriksaan intensif sebaiknya dilakukan sejak dini, yang paling baik pada usia kehamilan 14 hingga 28 minggu.”ujarnya.[by. Humas UA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s